Kamis, 05 Oktober 2017

Mencari Permata


Aku sadar, ketika hidup ini bukan sekedar bernafas atau nadi yang masih berdenyut.
Ketika waktu terus bergulir tanpa ada toleransi, di sana terserak banyak permata dan kerikil.

Ketika sempat aku mengumpulkan kerikil.
Dan aku sadar, ada permata di sini..
Lantas, aku tukar posisi kerikil dalam genggamanku dengan permata yang masih terhampar.


#MencariHikmahYangTerserak
#Chakha

A/H



Angan

Tersadar dan melesat jauh dalam angan yang tak tertahankan...
Merepih segala kerinduan yang ada.. rindu menggenggam cakrawala..
atau setidaknya memijak pelangi yang tak terwujudkan..



Ketika angan terus melambung, namun raga masih disini.

-A/H-

Rabu, 27 September 2017

Jadi Anak Kuliah

     Minggu awal semester baru amat memilukan bagiku, apalagi setelah mendapat hasil belajar semester lalu. Dibilang jelek, nggak juga sih. Tapi sedih aja dengan segala tingkah dosen semester lalu. Walaupun nilai yang kudapat bagus, tapi aku sungguh merasa 'rugi' akan pemahamanku dari beberapa mata kuliah semster lalu. Bisa dibilang, akhir semester lalu itu seperti makan buah simalakama. "Kalau nanti dapat nilai bagus, nggak ngerti apa -apa. Tapi kalau dapat nilai jelek, berarti harus ngulang... aaaah" pilihan yang sangat membuatku gamang dengan nilaiku itu. Tapi ya sudahlah, takdir Allah membuatku lulus dari mata kuliah yang mengerikan itu. Mungkin sebenarnya itu mata kuliah yang menyenangkan, hanya saja tingkah dosen yang menyebalkan yang membuat mata kuliah itu mengerikan.
 Tapi jujur, aku masih tetap gamang dengan hasil belajarku itu. Bagaimana aku harus mempertanggungjawabkannya ? aku sungguh 'blank'. Aku merasa kosong. And you know guys, sekarang sudah masuk pekan UAS lagi. Dan itu artinya 'semester baru' yang aku sebut di awal itu akan segera berakhir. Dosen - dosen di semester ini cukup berbeda sengan dosen - dosen di semester empat. Yup, ada beberapa dosen yang memang expert di bidangnya dan pastinya beliau nggak sering izin jadi ilmunya bisa ditransfer dengan baik. Ada beberapa dosen muda juga yang masih fresh graduate sepertinya, jadi cara mengajarnya disesuaikan dengan kami. 
     Setidaknya semester ini tidak terlalu membuat aku galau karena nilai.



**Kisah lama yang ditulis ketika semester 5 dan dipublish ketika lulus
    Kegamangan tentang ilmu yang dirasa kurang, tapi lulus mata kuliah itu, tapi ga ngerti apa - apa. Tapi kalau nggak lulus pun, ga mau. Apalagi kalau dosennya harus dosen yang lama. 

Nikmati saja rencana Allah.


A/H


Belajar dari Orang Lain


"Aku adalah akumulasi dari masa laluku" petikan dari sebuah buku yang aku garis bawahi dari ucapan guruku.

Ya, aku berada di sini. Aku yang saat ini. Aku dengan segala amanahku ini. Itu adalah akumulasi dari masa laluku. Itu semua karena Allah SWT yang memantaskan diriku atas semua ini. Selalu ada alasan dan pasti ada alasan mengapa aku seperti ini, saat ini. Ya, itu benar. Pasti ada alasan.

Perjalanan hidup ini memang penuh dengan kejutan. Ya, penuh misteri.

"Aku adalah akumulasi dari masa laluku" -Chairul Tanjung-

Tiba - tiba kalimat ini terhenti di telingaku dengan segala penjelasan dan pengalaman yang menarik. Bukan pengalaman dari seorang Chairul Tanjung.  Melainkan dari seorang guru yang sangat banyak menyerap hikmah dari buku Chairul Tanjung si anak singkong.

Perkataan guru itu begitu menohok. Kisah hidup yang entahlah, apa aku bisa kuat jika berada di posisinya. Sambil menyimak kisahnya, aku terbayang tentang kisah hidup orang tuaku. Kisah hidup anak - anak yang begitu sulit. Anak - anak yang merindukan orang tua.

Terkadang, begitu kufurnya aku yang terus mengeluhi hidup ini. Terkadang aku lupa dengan kisah hidup dari orang - orang berharga di sekitarku. Yang justru keadaan mereka lebih tidak menyenangkan dibanding aku. Sangat jauh berbeda dengan kehidupanku saat ini. Aku yang bisa sekolah dengan mudahnya. Aku yang tugasnya hanya belajar ketika masih sekolah. Aku yang tidak perlu memikirkan  'hari ini makan apa?' atau 'besok makan apa'. Aku yang tidak perlu memikirkan nasib adik - adikku ketika masih berusia dini. aaaah, jauh sekali dengan kisah kedua orangtuaku.

Mama, yang sejak kecil menjadi yatim. Sekolah pun rasanya sulit sekali, padahal beliau merupakan anak yang cerdas, selalu masuk peringkat tiga besar (ketika sekolah). Tapi sayang, kesempatan untuk menyelesaikan sekolah dasarnya pun tidak ada. Walaupun begitu, aku tetap bangga padanya. Ialah guru pertamaku. Yang mengajariku membaca pertama kali, Mama. Yang mengajariku menulis pertama kali, Mama. Yang mengajariku berhitung pertama kali, Mama. Yang membantuku belajar di rumah, Mama. Ya, masa kecilku lebih bahagia darinya. Boro - boro ada yang membimbingnya ketika kecil seperti ia membimbingku, yang ada beliau justru sibuk memikirkan adik - adiknya. Bekerja, membantu di rumah makan milik tetangga atau saudara hanya untuk mendapatkan nasi bungkus. Nasi bungkus itu pun dimakan bersama - sama.

Sedangkan aku ?
Dulu, ketika lapar aku hanya bilang "Ma, makan." atau "Ma, mau makan ini.. itu..bla..bla..bla."

Maafkan aku yang seolah merasa paling menderita dengan segala keluh kesahku. Seolah hanya aku yang punya masalah.

Kadang kita ini banyak lupa, kalau setiap orang pasti memiliki masalah dalam hidupnya, susah senangnya. Yup, maka bergaulah, bersosialisasi lah, berbagilah, mendengarlah, agar kita bisa belajar. Mencari hikmah hikmah yang berserakan di sepanjang perjalanan kehidupan kita, agar sabar dan syukur senantiasa hadir.

#tulisanlamayangbelumpernahdipublish
#Semogamenemukanhikmahyangterserak
#random
#ChaKha

A/H

Kamis, 31 Agustus 2017

Aku meminta petunjuk kepadaMu,
Lalu Kau memberikannya,
Dan akupun menerima petunjukMu.
Terima kasih, karena tidak pernah mengabaikanku.

A/H