Minggu, 04 Juni 2017

Terima Kasih

Terima kasih atas kesempatan untuk hidup.
Terima kasih atas takdir yang telah Kau kehendaki.
Terima kasih telah membuatku belajar.

A Herlina

Sabtu, 03 Juni 2017

My Hijab Story


     Rasanya sudah terlalu lama mengabaikanmu, wahai blog. Maafkeun ya. 

    Kali ini saya mau membahs, eh, bercerita kali ya tepatnya, tentang hijab story saya. Supaya lebih santai kata "saya" akan diganti jadi "aku".

     Dulu waktu SD, aku termasuk yang nggak tahu kalau pakai hijab itu wajib. Aku pikir sunnah. Sampai udah lulus SMK pun belum tahu kalau itu wajib. hehe kebangetan ya ?

     Tapi alhamdulillahnya, sejak SMP aku sudah mulai membiasakan pakai kerudung, tadinya kan hanya ketika mengaji doang. Alhamdulillah pas SMP, ketika sekolah dan main pun pakai kerudung. Walaupun saat itu belum tahu kalau itu hal wajib. Niat awalnya sih karena fenomena sekitar yang mengerikan menurut saya dan karena alasan pribadi.

    Waktu aku SD, MBA (married by accident) itu lagi ngetren banget. Jadi trending topicnya Ibu ibu waktu itu. Aku sendiri sudah paham kalau itu adalah hal negatif. Dulu, yang aku tahu menjadi penyebab MBA adalah pacaran. So, jadilah aku mulai memprotect diri. Pada jaman itu, punya pacar itu keren. Kalau aku mau, aku pun bisa aja pacaran sejak sd. Tapi aku sudah membuat perjanjian dengan diriku sendiri, kalau aku nggak akan pacaran sampai usia 17 tahun atau ketika lulus SMA. Jadi, seingin apapun aku untuk pacaran saat itu, sekagum apapun sama lawan jenis saat itu, harus ditahan dan dilawan sebisa mungkin.
     Dan salah satu cara untuk memprotect diri lainnya adalah pakai hijab / kerudung. Kenapa ? Karena dengan pakai kerudung (menurut saya) kita akan merasa malu jika melakukan hal hal yang salah atau menyimpang. Dan dengan pakai kerudung kita juga akan memfilter teman - teman atau orang - orang yang ada di sekeliling kita, kenapa ? Karena kita akan membatasi tempat tempat bergaul kita. Nggak mungkin kan pakai kerudung main ke diskotik atau clubbing ? 😁 (mungkin ada). So, saat SMP saya masuk ekskul ROHIS.
     Waktu SMP, saya pakai kerudung biasa - biasa aja. Belum kenal juga sama hijab syar'i dan nggak syar'i. Jadi ya, masih gitu deh (namanya juga masih belajar). Dulu, kalau melihat orang pakai kerudung panjang langsung deh mikir "fanatik banget". Apalagi yang kerudungannya panjang banget sampai hampir sebetis, langsung deh mikir "aku mah pakai kerudung biasa - biasa aja. Nggak usah kayak gitu."
     Walau dulu sudah pakai kerudung, tetep deh bagian bawahnya mah pakainya celana jeans "pensil". Maklum lah, rok yang dulu dipunya hanya rok sekolah. Pelan - pelan kalo kegiatan rohis yang nginep nginep disuruh pakai rok, jadi unya deh walaupun cuma satu dua. Kalau acaranya udah selesai, ya balik lagi deh pakai celana.. Hehe (namanya juga belajar, butuh proses).
     Dan waktu SMA, ekskul yang diincer adalah Teater dan Rohis. Udah dafar juga di keduanya. Tapi eh tapi, ternyata waktu kegiatannya berarengan. So, aku pilih teater. Dengan dalih, masih ikut ngaji mingguan di rumah dan masih ada kakak mentor. Yasudah deh, by rohis. Walaupun begitu, masih berhubungan dengan beberapa anak rohis dan ikut kegiatan kegiatannya. Dam waktu pun berjalan sampai aku lulus.
     Singkatnya aku bekerja di sebuah lembaga kemanusiaan yang islami banget (menurutku) dan itu pun linknya dapet dari anak rohis SMA. Entah kenapa aku jadi tergugah melihat mbak mbak yang pake kerudungannya panjang (syar'i gitu). Jadi lah pelan - pelan aku belajar dari mereka. Kerudung tipisnya mulai di dobel, kerudung pendeknya mulai dipanjangin. Kenapa ? Lama - lama aku jadi risih sendiri pakai kerudung pendek. Ada juga mbak mbak yang suka pakai manset tangan, aku pikir mbak mbak itu selalu double kaos panjang (haha norak emang saya).
     Udah kerja di tempat islami kayak gitu, aku pun malah kecemplung di dunianya alumni rohis SMA (yang notabene waktu sekolah aku sudah meninggalkannya). Emang Allah ya, keren aja skenarionya. So, mulai kenal sama kakak kakak shalihah berkerudung syar'i. Satu dua kali diskusi, masalah apapun, sampai ada seorang kakak yang bilang "aku risih kalau pakai kerudung nggak nutup bagian dada dan pinggul atau pantat di bagian belakangnya. Jleb ! Kalimat itu udah kaya doktrin cuy, terus terngiang sampai sekarang. Aku pun jadi nggak nyaman kalau nggak pakai kerudung seperti yang dimaksud. Terima kasih kakak yang sudah membntuku berevolusi. Oiya, di jaman jaman ini aku sudah tau kerudung itu wajib, apa dalilnya dan apa konsekuensinya jika tidak melakukannya. Syukur Alhamdulillah walaupun dulu belum tahu tapi sudah menjalaninya. Seiring mengupgrade kerudung, niat pun juga terupgrade. Alhamdulillah.
      Terkait janji untuk nggak pacaran, akhirnya berlanjut sampai sekarang. Karena sudah tahu konsekuensinya, walaupun ada pacaran yang "kelihatannya" baik. Tapi ya, aku pilih pacaran yang setelah halal aja lah, insya Allah. Lagipula nggak pacaran itu demi kehormatan wanita juga loh (insya Allah bahas di next post yaa).
     Berkat berguaul dengan orang orang shalihah itu aku jadi (shalihah juga), eh belum deh kalau itu mah...masih jauh. Haha masih begajulan.
Maksudnya aku jadi nambah pengetahuan, jadi tau deh organisasi - organisasi dan atau mahzab mahzab dalam islam. Udah nggak underestimate lagi sama yang pakai kerudung panjang banget, walaupun kerudungannya belum sepanjang itu, cukup menghormati saja.
     Sekarang pun kalau pakai kerudung yang penting nyaman (seperti doktrinnya kakak itu). Walaupun terkadang harus mikir untuk kerudungan erkerudungan yang panjangnya belum mumpuni untuk membuat nyaman itu. Sampai ada yang bilang "kayaknya pakai kerudungnya ribet ya." iya sih memang ribet, tapi supaya nyaman bagaimana lagi ? It's not only about fashion but also "kenyamanan".
Ada warna - warna tertentu yang aku suka dan yang padu padan dngan warna bajuku adalah kerudung yang tidak terlalu panjang, jadi supaya terlihat selaras dan aku tetap nyaman ya harus diakalin dong. "Beli baru aja kerudungnya" boleh baget, tapi beliin ya? 😁.
Mungkin banyak yang mikir buat gaya, tapi aaah sudahlah aku yang tahu niatku. Hehe sekian dulu ya..
    
Kalau ada hikmahnya silakan diambil, kalau nggak ada... Tolong dimaafkeun yaa.

Senin, 17 April 2017

Belajar dari Orang Lain


"Aku adalah akumulasi dari masa laluku" petikan dari sebuah buku yang aku garis bawahi dari ucapan guruku.

Ya, aku berada di sini. Aku yang saat ini. Aku dengan segala amanahku ini. Itu adalah akumulasi dari masa laluku. Itu semua karena Allah SWT yang memantaskan diriku atas semua ini. Selalu ada alasan dan pasti ada alasan mengapa aku seperti ini, saat ini. Ya, itu benar. Pasti ada alasan.

Perjalanan hidup ini memang penuh dengan kejutan. Ya, penuh misteri.

"Aku adalah akumulasi dari masa laluku" -Chairul Tanjung-

Tiba - tiba kalimat ini terhenti di telingaku dengan segala penjelasan dan pengalaman yang menarik. Bukan pengalaman dari seorang Chairul Tanjung.  Melainkan dari seorang guru yang sangat banyak menyerap hikmah dari buku Chairul Tanjung si anak singkong.

Perkataan guru itu begitu menohok. Kisah hidup yang entahlah, apa aku bisa kuat jika berada di posisinya. Sambil menyimak kisahnya, aku terbayang tentang kisah hidup orang tuaku. Kisah hidup anak - anak yang begitu sulit. Anak - anak yang merindukan orang tua.

Terkadang, begitu kufurnya aku yang terus mengeluhi hidup ini. Terkadang aku lupa dengan kisah hidup dari orang - orang berharga di sekitarku. Yang justru keadaan mereka lebih tidak menyenangkan dibanding aku. Sangat jauh berbeda dengan kehidupanku saat ini. Aku yang bisa sekolah dengan mudahnya. Aku yang tugasnya hanya belajar ketika masih sekolah. Aku yang tidak perlu memikirkan  'hari ini makan apa?' atau 'besok makan apa'. Aku yang tidak perlu memikirkan nasib adik - adikku ketika masih berusia dini. aaaah, jauh sekali dengan kisah kedua orangtuaku.

Mama, yang sejak kecil menjadi yatim. Sekolah pun rasanya sulit sekali, padahal beliau merupakan anak yang cerdas, selalu masuk peringkat tiga besar (ketika sekolah). Tapi sayang, kesempatan untuk menyelesaikan sekolah dasarnya pun tidak ada. Walaupun begitu, aku tetap bangga padanya. Ialah guru pertamaku. Yang mengajariku membaca pertama kali, Mama. Yang mengajariku menulis pertama kali, Mama. Yang mengajariku berhitung pertama kali, Mama. Yang membantuku belajar di rumah, Mama. Ya, masa kecilku lebih bahagia darinya. Boro - boro ada yang membimbingnya ketika kecil seperti ia membimbingku, yang ada beliau justru sibuk memikirkan adik - adiknya. Bekerja, membantu di rumah makan milik tetangga atau saudara hanya untuk mendapatkan nasi bungkus. Nasi bungkus itu pun dimakan bersama - sama.

Sedangkan aku ?
Dulu, ketika lapar aku hanya bilang "Ma, makan." atau "Ma, mau makan ini.. itu..bla..bla..bla."

Maafkan aku yang seolah merasa paling menderita dengan segala keluh kesahku. Seolah hanya aku yang punya masalah.

Kadang kita ini banyak lupa, kalau setiap orang pasti memiliki masalah dalam hidupnya, susah senangnya. Yup, maka bergaulah, bersosialisasi lah, berbagilah, mendengarlah, agar kita bisa belajar. Mencari hikmah hikmah yang berserakan di sepanjang perjalanan kehidupan kita, agar sabar dan syukur senantiasa hadir.

#tulisanlamayangbelumpernahdipublish
#Semogamenemukanhikmahyangterserak
#random
#ChaKha